HaloBugar Journal
Artikel
Pesan
Foto ilustrasi terkait Kabut Asap Karhutla: Dampak PM2.5 pada Tubuh dan Cara Melindungi Diri
Foto sumber: who.int · Hak cipta mengikuti sumber; verifikasi editorial wajib sebelum publikasi
HaloBugar Journal

Kabut Asap Karhutla: Dampak PM2.5 pada Tubuh dan Cara Melindungi Diri

#PrayforKalimantan ramai saat kabut asap memicu PJJ di sejumlah wilayah. Asap karhutla didominasi PM2.5 yang bisa memperberat penyakit paru dan jantung. Ini penjelasan dampaknya, siapa yang paling rentan, serta langkah perlindungan yang efektif di rumah, sekolah, dan kantor.

11 Okt 2026, 05.00

Tagar #PrayforKalimantan ramai pada 9 Oktober 2026 bersamaan dengan kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang membuat sejumlah kampus dan sekolah kembali ke pembelajaran jarak jauh. Laporan lokal menyebut ribuan hotspot terpantau di Kalimantan dan kebakaran berpotensi berlanjut hingga November.

Di balik kabut yang tampak putih keabu-abuan itu, yang membahayakan kesehatan justru partikel halus yang tak terlihat. Apa yang terjadi di tubuh saat kamu menghirup asap seperti ini, siapa yang sebaiknya ekstra waspada, dan perlindungan apa yang paling masuk akal untuk keluarga?

Apa yang asap lakukan pada tubuh

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar 90 persen massa partikel yang dikeluarkan kebakaran hutan adalah PM2.5. Ini partikel sangat kecil dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer. Ukuran tersebut cukup kecil untuk menembus jauh ke bagian terdalam paru. Dari sana, sebagian partikel dan zat kimia yang menempel bisa memicu reaksi di saluran napas dan bahkan masuk ke peredaran darah.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat menjelaskan beberapa jalurnya. Paparan PM2.5 dapat memicu stres oksidatif dan peradangan, mengganggu kendali sistem saraf otonom pada jantung dan pembuluh darah, serta memengaruhi fungsi darah, metabolisme, dan vaskular. Itulah mengapa asap tidak hanya memperberat keluhan pernapasan seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronik, tetapi juga dikaitkan dengan meningkatnya kejadian masalah jantung. WHO menyebut paparan partikel halus dari kebakaran dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit dan kematian dini, terutama pada kelompok rentan.

Efek asap tidak selalu muncul sama pada setiap orang. Ada yang cepat batuk, sesak, atau perih di mata. Ada juga yang baru merasakan dampaknya setelah beberapa jam atau hari, misalnya mudah lelah saat aktivitas atau napas terasa berat lebih cepat dari biasanya.

Siapa yang paling rentan

Kelompok yang perlu ekstra waspada meliputi anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Orang dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronik juga berisiko mengalami kekambuhan. Risiko meningkat pada orang yang memiliki penyakit jantung, serta mereka dengan diabetes atau penyakit ginjal. Pada kelompok ini, paparan yang sama bisa menimbulkan gejala lebih berat atau memperparah kondisi yang sudah ada. Gejalanya bisa berupa serangan asma yang lebih sering, napas berbunyi, bengkak bertambah pada kaki, atau keluhan dada muncul saat aktivitas ringan.

Tanda bahaya yang perlu diwaspadai

Segera cari pertolongan medis bila muncul salah satu dari berikut:

  • Sesak napas berat atau napas sangat cepat.
  • Nyeri atau tekanan di dada yang tidak biasa.
  • Linglung, pusing berat, atau sulit dibangunkan.
  • Gejala asma atau PPOK yang tidak membaik dengan obat rutin.
  • Pada anak, tarikan dinding dada saat bernapas, bibir atau wajah tampak kebiruan, atau batuk yang tak berhenti disertai kesulitan minum atau makan.

Jika kamu hamil dan mengalami sesak, pusing hebat, atau berdebar tidak biasa saat kualitas udara buruk, sebaiknya segera konsultasi.

Perlindungan yang realistis dan berdampak

Prinsip utamanya adalah mengurangi paparan. WHO, EPA, dan CDC konsisten menekankan tiga hal: tinggal di ruang dengan udara lebih bersih, pakai pelindung pernapasan yang tepat saat harus keluar, dan atur ulang aktivitas berat.

Di rumah, buat ruang bersih. Tutup rapat pintu dan jendela saat asap pekat. Jika ada AC, gunakan mode sirkulasi ulang agar udara dari luar tidak terus masuk. Jika punya pembersih udara dengan filter partikulat, nyalakan di ruangan tempat keluarga paling sering berkumpul. Buka ventilasi silang kembali saat kualitas udara membaik.

Saat harus keluar, pakai respirator partikulat yang pas di wajah. Pilih N95 atau KN95 yang menempel rapat tanpa celah di pipi dan batang hidung. Masker kain atau masker bedah dapat menahan sebagian partikel besar, namun tidak dirancang menyaring PM2.5 seefektif respirator partikulat yang sesuai standar.

Atur ulang aktivitas luar ruang yang berat. Berlari, bersepeda intens, atau kerja fisik di luar sebaiknya ditunda saat asap pekat. Jika pekerjaan tidak bisa ditunda, lakukan jeda lebih sering di ruang tertutup dengan udara lebih bersih.

Di kendaraan, gunakan mode sirkulasi ulang. Ini membantu mengurangi asap dari luar yang masuk ke kabin. Jika memungkinkan, pasang filter kabin sesuai rekomendasi pabrikan.

Jaga hidrasi dan obat rutin. Paparan asap bisa memicu kekambuhan penyakit paru atau jantung. Pastikan obat inhaler atau obat harian tetap teratur dan mudah dijangkau.

Sekolah, kantor, dan pekerja lapangan

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes menekankan kesiapsiagaan menghadapi karhutla, termasuk pemantauan kualitas udara dan peran institusi pendidikan serta tempat kerja saat udara memburuk. Pengelola sekolah dan kantor dapat menyiapkan respirator partikulat untuk warga sekolah atau karyawan yang perlu berpindah antar gedung. Kegiatan luar ruang seperti olahraga dan upacara sebaiknya dipindah ke dalam ruangan atau dijadwalkan ulang.

Ruang kelas atau ruang kerja dapat diatur dengan sirkulasi ulang dan filtrasi bila tersedia, sambil meminimalkan kebocoran udara dari luar. Untuk wilayah dengan asap pekat berkepanjangan, pembelajaran jarak jauh atau kerja dari rumah bisa menjadi opsi sementara, seperti yang sudah diterapkan di beberapa daerah terdampak. Penting juga mengomunikasikan gejala yang harus diwaspadai serta alur rujukan bila ada keluhan sesak, mengi, atau nyeri dada di lingkungan sekolah atau kantor.

Mengapa momen ini genting bagi Kalimantan

Laporan pada 8 sampai 9 Oktober 2026 menunjukkan situasi belum mereda. Di Kotawaringin Barat, tercatat 21.369 hotspot dan prakiraan menyebut kebakaran bisa berlanjut hingga November. Tagar #PrayforKalimantan pun mengemuka karena dampaknya terasa pada kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Empati perlu diiringi langkah nyata untuk menurunkan paparan di tingkat keluarga dan komunitas.

Apa yang belum kita ketahui

Bukti efek jangka pendek asap terhadap pernapasan dan jantung sudah kuat. Namun WHO menekankan bahwa dampak jangka panjang paparan berulang masih diteliti, terutama pada anak, ibu hamil, dan kelompok rentan lain. Karena itu, pencegahan paparan tetap menjadi strategi utama sambil mengikuti pembaruan dari otoritas kesehatan.

Sumber

  • detikKalimantan, 9 Oktober 2026: Tagar #PrayforKalimantan ramai, sejumlah sekolah dan kampus beralih PJJ.
  • detikKalimantan, 8 Oktober 2026: 21.369 hotspot di Kotawaringin Barat, karhutla diperkirakan berlanjut hingga November.
  • WHO: Wildfires and health fact sheet; halaman topik Wildfires.
  • U.S. EPA: Why is Smoke a Health Concern?
  • CDC: Wildfires, kelompok berisiko dan dampak kesehatan.
  • BKPK Kemenkes RI: Kesiapsiagaan karhutla 2026 dan peran sekolah serta tempat kerja.

Artikel HaloBugar bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan diagnosis atau penanganan medis profesional.