
Kasus bayi 24 hari dan telur mentah: risiko medis dan pedoman makan
Bayi 24 hari meninggal di RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Kasusnya viral karena sebelumnya diduga diberi telur mentah. Rumah sakit belum mengumumkan penyebab medis. Pedoman WHO, CDC, FDA, dan imbauan IDAI tegas: pada 0 sampai 6 bulan, bayi hanya ASI atau susu formula khusus bayi. Telur mentah berisiko membawa Salmonella dan tidak aman untuk anak kecil.
Seorang bayi berusia 24 hari meninggal di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, pada Minggu, 11 Oktober 2026 pukul 07.10 WIB. Kasus ini viral karena sebelumnya sang bayi disebut diduga diberi telur mentah. Media lokal melaporkan waktu dan tempat kejadian, namun rumah sakit belum merilis penjelasan penyebab medis kematian. Artinya, keterkaitan langsung antara telur mentah dan kematian belum dapat dipastikan oleh publik.
Di luar polemik sebab-akibat, ada hal penting untuk diingat. Pada usia neonatus atau 0 sampai 28 hari, saluran cerna dan sistem imun bayi belum siap menerima apa pun selain ASI atau susu formula khusus bayi. Telur mentah termasuk pangan berisiko tinggi karena dapat membawa kuman penyebab penyakit.
Mengapa telur mentah berbahaya untuk bayi?
Telur segar bisa mengandung bakteri Salmonella Enteritidis. Otoritas pangan dan kesehatan menekankan bahwa kelompok anak di bawah 5 tahun sangat rentan sakit berat bila terpapar penyakit bawaan pangan seperti Salmonella. Risiko rawat inap pada kelompok ini lebih tinggi. Untuk menu yang tidak dimasak matang, standar keamanan di banyak negara mensyaratkan telur terpasteurisasi. Namun untuk bayi, makanan selain ASI atau formula memang belum dianjurkan pada 0 sampai 6 bulan.
Bayi baru lahir juga memiliki usus dan daya tahan tubuh yang belum matang. Pemberian makanan selain ASI atau formula pada periode ini menambah risiko kuman masuk dan mengganggu keseimbangan usus. Ada pula risiko aspirasi atau tersedak ketika cairan kental atau bahan mentah diberikan ke mulut bayi. Bila isi mulut masuk ke saluran napas, napas bisa tersumbat dan memicu infeksi paru.
Ikatan Dokter Anak Indonesia mengingatkan, telur mentah atau setengah matang tidak aman untuk bayi dan anak karena risiko Salmonella. Imbauan ini sejalan dengan pedoman lembaga internasional.
Apa yang terjadi di tubuh bayi saat terpapar risiko ini?
Salmonella dari telur mentah dapat masuk melalui mulut lalu bertahan di saluran cerna. Gejalanya bisa berupa diare, muntah, dan demam. Pada neonatus, perubahan cairan tubuh berlangsung cepat, sehingga dehidrasi bisa terjadi dalam waktu singkat dan pada sebagian kasus berujung pada infeksi menyeluruh di darah atau sepsis. Gangguan cairan juga dapat mengacaukan keseimbangan garam mineral dan kadar gula darah, yang berpengaruh pada kesadaran dan fungsi organ.
Risiko lain datang dari jalur napas. Pemberian paksa atau posisi yang keliru dapat membuat isi mulut masuk ke saluran napas. Kondisi ini bisa menimbulkan batuk hebat, sesak, hingga pneumonia aspirasi.
Pedoman makan bayi 0 sampai 6 bulan
WHO menegaskan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. Makanan pendamping baru dimulai sekitar usia 6 bulan saat tanda kesiapan makan muncul. Bila ASI tidak memungkinkan, gunakan susu formula khusus bayi sesuai usia dan siapkan dengan cara yang higienis.
Telur dan produk telur harus dimasak sampai matang. Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk anak kecil. Aturan tentang telur terpasteurisasi yang kadang dipakai pada makanan tanpa pemanasan ditujukan untuk populasi umum. Untuk bayi di bawah 6 bulan, makanan padat atau campuran non susu tetap belum dianjurkan.
Dengan kata lain, pada 0 sampai 6 bulan, pilihan yang aman dan sesuai pedoman hanya ASI atau formula bayi. Telur yang kaya gizi baru boleh dikenalkan setelah usia sekitar 6 bulan dan harus dimasak sampai matang.
Soal “telur mentah untuk menurunkan demam”
Tidak ada dalam pedoman WHO maupun imbauan IDAI yang merekomendasikan telur mentah untuk menurunkan demam pada bayi. Demam pada bayi, terutama di 3 bulan pertama, perlu dinilai tenaga kesehatan karena bisa menjadi tanda infeksi serius. Mengganti penanganan medis dengan bahan mentah justru menambah risiko infeksi dari makanan.
Apa yang bisa disimpulkan dari kasus Surabaya?
Suara Surabaya melaporkan RSUD Dr Soetomo belum memberi keterangan medis penyebab kematian. Tanpa data medis resmi, sebab langsung kematian bayi tersebut tidak dapat dinyatakan. Namun dua hal tetap jelas. Pemberian makan selain ASI atau formula pada usia neonatus bertentangan dengan pedoman. Telur mentah atau kurang matang memang membawa risiko kuman berbahaya pada anak kecil.
Panduan singkat untuk orang tua dan pengasuh
- Pada 0 sampai 6 bulan, berikan hanya ASI atau susu formula khusus bayi. Konsultasikan ke tenaga kesehatan bila ada kendala menyusui atau bayi tampak tidak cukup minum.
- Jangan berikan telur mentah, setengah matang, madu, air, teh, jus, atau bahan padat lain pada bayi muda, kecuali atas anjuran medis yang jelas.
- Mulai MPASI sekitar usia 6 bulan saat tanda kesiapan muncul, misalnya bisa duduk tegak dengan sedikit bantuan, refleks menjulurkan lidah berkurang, dan tertarik pada makanan. Masak telur sampai putih dan kuningnya padat.
- Jaga kebersihan tangan, alat makan, botol, dan permukaan dapur. Kontaminasi silang bisa terjadi dari cangkang telur mentah ke peralatan.
- Bila bayi demam, muntah, diare, tampak lemah, atau sulit bernapas, segera cari pertolongan medis. Pada bayi di bawah 3 bulan, demam adalah tanda gawat yang perlu dinilai dokter.
Sumber
- Suara Surabaya; detikHealth dan detikJatim; ANTARA News
- WHO; CDC; U.S. FDA; Ikatan Dokter Anak Indonesia
Artikel HaloBugar bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan diagnosis atau penanganan medis profesional.