HaloBugar Journal
Artikel
Pesan
Foto ilustrasi terkait Ramai ‘brandu’ kambing mati di Gunungkidul: apa itu antraks dan cara cegah
Foto sumber: jogja.antaranews.com · Hak cipta mengikuti sumber; verifikasi editorial wajib sebelum publikasi
HaloBugar Journal

Ramai ‘brandu’ kambing mati di Gunungkidul: apa itu antraks dan cara cegah

Empat warga Semanu, Gunungkidul, positif antraks setelah kontak dan makan daging kambing yang mati mendadak. Mereka sudah sembuh. Kejadian ini mengingatkan bahwa antraks bermula di hewan dan bisa menular saat bangkai dipotong atau dikonsumsi. Ini penjelasan jalur penularan, gejala, terapi, dan langkah cegah‑tanggap yang benar.

4 Okt 2026, 05.00

Empat warga di Padukuhan Pelem, Dadapayu, Semanu, Gunungkidul dinyatakan positif antraks setelah menyembelih atau mengonsumsi daging kambing yang mati mendadak. Dinas Kesehatan Gunungkidul menyebut keempatnya sudah sembuh dan per 3 Oktober 2026 belum ada penambahan kasus. Laporan setempat juga mencatat adanya kelompok warga berisiko karena riwayat kontak pada peristiwa yang sama.

Kementerian Pertanian melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan menyatakan memperkuat langkah pemkab. Responsnya meliputi penyelidikan lapangan, pemeriksaan laboratorium, vaksinasi hewan, dan edukasi warga. Intinya, antraks hampir selalu bermula di hewan. Risiko pada manusia meningkat saat bangkai hewan sakit dipotong atau dikonsumsi.

Mengapa ‘brandu’ hewan mati bisa memicu antraks

Antraks adalah penyakit akibat bakteri Bacillus anthracis. Kuman ini bisa membentuk spora, yaitu bentuk istirahat yang tahan di lingkungan dan dapat bertahan lama di tanah atau bangkai. WHO dan CDC menegaskan penularan ke manusia biasanya terjadi saat orang menyentuh, memotong, atau menggunakan produk hewan terinfeksi, termasuk kulit dan daging.

Saat hewan mati karena antraks, spora dapat mencemari permukaan tubuh, darah, alat potong, tanah, pakaian, dan tangan. Pemotongan bangkai tanpa perlindungan membuat spora mudah masuk lewat kulit yang lecet atau tertelan bersama daging. Inilah mengapa kebiasaan ‘brandu’ hewan yang mati mendadak berbahaya bagi orang yang menangani maupun warga sekitar.

Bagaimana dengan memasak daging sampai sangat matang? Memasak bisa membunuh bakteri aktif, tetapi penularan bisa terjadi lebih awal saat pemotongan dan penyiapan. Spora mudah mencemari papan potong, alat masak, dan tangan. Risiko sudah muncul sebelum panci di nyalakan. Rekomendasinya jelas: jangan menyembelih atau mengonsumsi hewan yang mati mendadak.

Kenali bentuk dan gejalanya

Gejala bergantung pada jalur masuknya kuman.

Antraks kulit terjadi saat spora masuk lewat luka kecil ketika menyentuh hewan atau bangkai. Lesinya sering tampak seperti benjolan gatal yang berubah menjadi luka berkerak hitam, bisa disertai bengkak di sekitar luka dan demam. Dengan antibiotik yang tepat, sebagian besar kasus kulit bisa sembuh.

Antraks saluran cerna muncul setelah makan daging hewan terinfeksi yang tidak ditangani dengan benar. Keluhannya bisa berupa demam, mual, muntah, sakit perut, atau diare. Pada sebagian orang keluhan bisa berat dan butuh perawatan di fasilitas kesehatan.

Keluhan umumnya muncul dalam beberapa hari setelah paparan. Kalau kamu baru memotong, menguliti, atau mengonsumsi daging hewan yang mati mendadak lalu muncul gejala di atas, segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit. Sampaikan riwayat paparan hewan agar pemeriksaan mengarah.

Terapi dan pencegahan setelah paparan

WHO dan CDC merekomendasikan antibiotik sebagai terapi utama untuk antraks alami. Kuncinya adalah mulai obat sedini mungkin setelah dicurigai atau terkonfirmasi. Untuk antraks kulit yang ditangani cepat, peluang sembuh sangat baik. Untuk bentuk saluran cerna, tata laksananya juga mengandalkan antibiotik dan dukungan sesuai gejala.

Bagaimana dengan orang yang terpapar tetapi belum sakit? Untuk paparan non‑aerosol seperti kontak kulit saat memotong bangkai atau konsumsi daging yang terkontaminasi, CDC menyarankan profilaksis antibiotik selama 7 hari. Pada skenario ini, vaksin pasca paparan tidak diperlukan. Keputusan pemberian obat pencegahan akan ditimbang petugas kesehatan berdasarkan penilaian risiko lokal.

Jika gejala berat, ada tanda infeksi menyeluruh, atau dokter mencurigai bentuk penyakit selain kulit, pasien biasanya dirujuk untuk perawatan lebih intensif. Pemeriksaan laboratorium membantu menegakkan diagnosis.

Lindungi rumah, kandang, dan desa

Pelajaran dari kasus di Gunungkidul sederhana: cegah sumbernya di hewan, lalu lindungi manusia. Hentikan kebiasaan ‘brandu’. Laporkan kematian mendadak pada ternak agar penilaian cepat dilakukan. Pemerintah menyebut vaksinasi hewan rentan dilakukan di wilayah terdampak. Tanyakan jadwal vaksinasi ternak di wilayahmu ke dinas setempat.

Jika petugas mencurigai antraks, bangkai tidak boleh dibedah. Tunggu arahan tim kesehatan hewan untuk pemusnahan yang aman agar tanah dan air tidak tercemar. Saat merawat hewan, tutup luka kecil di tangan, gunakan sarung tangan, dan cuci tangan setelah selesai.

Jika ada hewan mati mendadak, lakukan ini

  • Jangan memotong, mengulit, atau mengonsumsi dagingnya. Jauhkan anak‑anak dan hewan lain dari lokasi bangkai.
  • Hubungi perangkat desa, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat, atau puskesmas terdekat untuk penilaian. Ikuti arahan petugas untuk penanganan bangkai dan pemeriksaan hewan sekitar.
  • Jika kamu sempat kontak dengan bangkai atau dagingnya, catat tanggal dan jenis kontak. Sampaikan ke tenaga kesehatan. Mereka akan menilai apakah perlu antibiotik pencegahan selama 7 hari.
  • Bila muncul demam, luka kulit mencurigakan, atau keluhan cerna setelah paparan, segera periksa. Jangan menunggu parah.

Dinas Kesehatan Gunungkidul menyatakan empat pasien sudah sembuh dan belum ada penambahan kasus per 3 Oktober 2026. Meski begitu, surveilans dan edukasi tetap diperlukan karena spora bisa bertahan di lingkungan, terutama di lokasi bangkai atau tanah yang terkontaminasi. Upaya gabungan lintas sektor seperti yang dilaporkan Kementerian Pertanian menjadi kunci mencegah kejadian berulang.

Sumber:

  • Dinas Kesehatan Gunungkidul via detikJogja dan ANTARA: update kasus dan status kesembuhan.
  • Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian: langkah pengendalian di Dadapayu, Semanu.
  • WHO dan CDC: definisi antraks, bentuk penyakit, pengobatan antibiotik, dan profilaksis pasca paparan non‑aerosol 7 hari.

Artikel HaloBugar bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan diagnosis atau penanganan medis profesional.