HaloBugar Journal
Artikel
Pesan
Foto Jalen Hurts
Foto sumber: philadelphiaeagles.com · Hak cipta mengikuti sumber; verifikasi editorial wajib sebelum publikasi
HaloBugar Journal

Superficial blood clot di betis: beda dengan DVT dan kapan waspada

Philadelphia Eagles menaruh Jalen Hurts ke Injured Reserve karena ‘superficial blood clot’ di betis. Ini bukan DVT, tetapi tetap perlu evaluasi karena sebagian kasus bisa mendekati atau meluas ke vena dalam. Berikut perbedaannya, mekanisme, gejala, dan langkah aman untuk atlet serta pelancong.

18 Okt 2026, 01.00

Philadelphia Eagles menempatkan quarterback Jalen Hurts ke Injured Reserve pada 17 Oktober 2026 karena temuan “superficial blood clot” di betis. Dua hari sebelumnya, tim menjelaskan bahwa USG menemukan bekuan darah pada vena yang letaknya dekat permukaan kulit. Hurts dinyatakan absen untuk laga melawan Panthers. Informasi ini juga dilaporkan oleh NFL.com dan The Philadelphia Inquirer.

Istilah blood clot sering bikin orang langsung mengira DVT atau emboli paru. Pada Hurts, tim menyebutnya superficial venous thrombosis atau SVT, bekuan di vena superfisial. Kasus seperti ini umumnya lebih ringan daripada DVT, tetapi tetap perlu dinilai lokasi dan panjang bekuannya karena sebagian bisa mendekati sistem vena dalam. Di sini kita bedakan SVT dan DVT, jelaskan cara terjadinya, gejala yang perlu dikenali, serta apa artinya untuk aktivitas olahraga dan perjalanan jauh.

SVT vs DVT: lokasi menentukan risiko

SVT adalah bekuan di vena yang berada tepat di bawah kulit. Keluhannya sering berupa garis nyeri dan kemerahan yang terasa seperti “kabel” keras di bawah kulit. DVT terjadi di vena dalam, misalnya pada betis atau paha bagian dalam. DVT lebih berisiko karena bekuannya bisa lepas dan menyumbat pembuluh di paru, yang disebut emboli paru dan dapat mengancam nyawa.

Secara umum SVT lebih ringan, tetapi tidak boleh disepelekan. Jika bekuan berada dekat “persimpangan” ke vena dalam atau panjangnya cukup besar, dokter dapat mempertimbangkan obat pengencer darah jangka pendek, kira-kira sampai 45 hari, untuk menekan risiko perluasan. Keputusan bergantung pada temuan USG dan faktor risiko orang tersebut, bukan sekadar label superficial.

Bagaimana bekuan di betis bisa terbentuk?

Tubuh membentuk bekuan untuk menghentikan perdarahan. Masalah muncul bila bekuan terjadi di pembuluh tanpa luka terbuka. Pada tungkai, risikonya meningkat bila aliran darah melambat saat imobilisasi atau duduk lama, ada iritasi pada dinding pembuluh, atau seseorang punya kecenderungan darah mudah membeku. CDC mencatat faktor risiko seperti imobilisasi atau perjalanan jauh, cedera atau pembedahan, kanker, riwayat bekuan sebelumnya, dan penggunaan terapi hormon tertentu. Sebagian faktor yang menaikkan risiko DVT juga bisa hadir pada orang dengan SVT. Pada atlet, periode istirahat karena cedera, memar jaringan, atau jadwal perjalanan tandang yang panjang dapat ikut berperan. Pada kasus individu, penyebab pastinya tidak selalu diumumkan dan sering tidak tunggal.

Gejala yang perlu dikenali dan tanda gawat darurat

SVT biasanya menimbulkan nyeri terlokalisasi di sepanjang vena superfisial yang tampak atau teraba, sering disertai kemerahan dan rasa hangat pada kulit setempat. Pada DVT, gejala dapat berupa bengkak pada salah satu tungkai, nyeri tekan di betis atau paha, perubahan warna kulit, serta rasa hangat. Gejala tidak selalu khas, jadi evaluasi medis penting bila ada kecurigaan.

Segera ke unit gawat darurat bila muncul tanda yang mengarah ke emboli paru: sesak napas mendadak, nyeri dada yang bertambah saat tarik napas, atau batuk darah.

Bila kamu mengalami nyeri betis sepihak, bengkak, kemerahan, atau ada vena yang terasa seperti “kabel” di bawah kulit, buat janji konsultasi. Tenaga kesehatan akan menilai apakah perlu USG untuk memetakan letak bekuan dan hubungannya dengan vena dalam.

Apa yang biasanya dilakukan dokter?

Evaluasi awal mencakup pemeriksaan fisik dan sering kali USG vena. Tujuannya memastikan lokasi, panjang bekuan, dan jaraknya dari persimpangan ke vena dalam. Bila SVT kecil, jauh dari vena dalam, dan keluhan ringan, penanganan konservatif seperti kompres hangat, meninggikan tungkai, dan obat pereda nyeri dapat cukup, disertai pemantauan. Bila SVT panjang, sekitar lima sentimeter atau lebih, atau dekat dengan persimpangan ke vena dalam seperti saphenofemoral atau popliteal, sejumlah panduan menyebut dokter dapat mempertimbangkan antikoagulan jangka pendek sekitar 45 hari. Keputusan didasari temuan USG, faktor risiko, dan penilaian klinis.

Pada kasus Jalen Hurts, klub hanya menyebut ada superficial blood clot di betis berdasarkan USG dan statusnya di Injured Reserve. Jenis obat, dosis, dan durasi terapi tidak diungkap. Informasi tersebut merupakan ranah medis pribadi dan memang tidak selalu dipublikasikan oleh tim.

Kapan kondisi ini berbahaya?

SVT jarang berujung pada emboli paru dibanding DVT. Risikonya meningkat bila bekuan panjang dan aktif merambat, berada dekat persimpangan ke vena dalam, atau terjadi pada orang dengan faktor risiko penggumpalan darah yang kuat. Itulah mengapa sebagian kasus SVT tetap dipantau ketat, bahkan diobati dengan antikoagulan singkat, untuk mencegah perluasan ke sistem vena dalam.

Pelajaran praktis untuk atlet dan pelancong

Kenali sinyal tubuh dan jangan memijat area yang sangat nyeri serta tampak seperti jalur vena yang menonjol sebelum evaluasi, karena dapat memperparah peradangan lokal. Setelah cedera olahraga, ikuti anjuran pemulihan dari pelatih medis atau dokter. Bila perlu istirahat lama, tanyakan latihan gerak pergelangan kaki atau betis yang aman agar aliran darah tetap baik. Saat perjalanan jauh, CDC menyarankan kamu bergerak berkala, melakukan peregangan kaki saat duduk, dan minum sesuai kebutuhan agar tidak dehidrasi. Bila kamu memiliki faktor risiko kuat untuk bekuan darah, diskusikan rencana perjalanan dengan tenaga kesehatan. Pada sebagian orang, penggunaan stoking kompresi, yaitu kaus kaki elastis yang memberi tekanan lembut untuk membantu aliran darah, dapat dipertimbangkan sesuai saran medis.

Penempatan Hurts ke Injured Reserve mengingatkan dua hal. Blood clot tidak selalu berarti DVT, dan SVT tetap perlu evaluasi jelas, terutama pada atlet yang mengandalkan performa tungkai. Bagi pembaca, pesannya sederhana: waspada pada sinyal di tungkai, cari evaluasi bila curiga, dan pahami bahwa sebagian SVT bisa ditangani konservatif, sementara sebagian lain memerlukan antikoagulan singkat tergantung lokasi dan risikonya.

Sumber:

  • Philadelphia Eagles, rilis 17 Oktober 2026 dan 15 Oktober 2026
  • NFL.com
  • The Philadelphia Inquirer
  • CDC: Venous Thromboembolism; CDC: Blood Clots During Travel
  • Merck Manual Consumer: Superficial Venous Thrombosis
  • BMJ Best Practice: Superficial vein thrombosis

Artikel HaloBugar bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan diagnosis atau penanganan medis profesional.